agroplus.co.id – Dinamika pasar keuangan global tengah memberikan sinyal kuat bagi para pemegang modal. Saat ini, para investor terlihat lebih selektif dan cenderung mengalihkan minat mereka ke surat utang negara (SUN) dengan tenor pendek hingga menengah, ketimbang berkomitmen pada instrumen jangka panjang. Fenomena ini memicu pertanyaan besar di kalangan pengamat: apakah ini pertanda menurunnya kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia?
Berdasarkan data hasil lelang sembilan seri surat utang negara pada 13 Oktober 2026, terlihat perbedaan mencolok pada rasio permintaan (bid to cover ratio). Instrumen tenor pendek menunjukkan daya tarik yang sangat tinggi. Sebagai contoh, seri SPN01261114 mencatat rasio sebesar 4,8 kali, sementara SPN03270113 mencapai 3,54 kali. Sebaliknya, untuk tenor panjang seperti FR0105, rasionya hanya berada di angka 1,15 kali.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, tren ini menunjukkan pergeseran perilaku yang signifikan. Pada Oktober 2025, instrumen tenor panjang seperti FR0102 dan FR0105 masih mampu mencatat bid to cover ratio yang kuat di angka 3,81 kali dan 3,91 kali.
Menanggapi pergeseran ini, Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menjelaskan bahwa tingginya permintaan pada tenor pendek hingga menengah dipicu oleh kekhawatiran terhadap prospek ekonomi jangka menengah-panjang. Ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor utama yang membuat investor lebih memilih menjaga likuiditas mereka.
"Investor tampaknya masih melihat prospek jangka menengah-panjang penuh dengan ketidakpastian. Tren ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga melanda negara-negara maju. Sebagai contoh, permintaan untuk US Treasury tenor 30 tahun juga sangat lemah," ujar David kepada agroplus.co.id.
Menurutnya, gejolak geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah, berdampak langsung pada risiko inflasi dan kebijakan suku bunga global. Hal ini memaksa investor untuk memperpendek durasi portofolio mereka guna memitigasi risiko.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menekankan bahwa fenomena ini tidak serta-merta mencerminkan hilangnya kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia. Ia menyebutkan bahwa investor kini sedang bersikap sangat hati-hati dalam mengelola risiko suku bunga dan nilai tukar.
Data menunjukkan bahwa total penawaran masuk pada lelang 13 Oktober 2026 justru melonjak tajam menjadi Rp64,86 triliun, naik sekitar 51,3% dibandingkan lelang pada 29 September. "Minat investor terhadap surat utang Indonesia sebenarnya masih sangat kuat, namun mereka menjadi jauh lebih selektif dalam menentukan jangka waktu investasi," kata Josua.
Salah satu alasan teknisnya adalah perbandingan antara tambahan imbal hasil (yield) dengan risiko yang harus ditanggung. Investor merasa tidak sebanding jika harus mengunci dana hingga puluhan tahun hanya untuk mendapatkan tambahan imbal hasil yang sangat kecil, sementara risiko penurunan harga obligasi akibat fluktuasi suku bunga jauh lebih besar.
Selain faktor global, kondisi domestik seperti tekanan nilai tukar rupiah dan prospek peringkat kredit juga menjadi perhatian. Namun, Josua menegaskan bahwa kepemilikan asing terhadap SBN justru meningkat sekitar Rp35 triliun sejak akhir 2025 hingga Oktober 2026.
"Pesan utamanya bukan investor tidak percaya pemerintah mampu membayar utang, melainkan mereka menuntut kepastian kebijakan dan imbal hasil yang sepadan sebelum mengikat dana dalam jangka sangat panjang," tutup Josua.
