agroplus.co.id – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMFI), yang merupakan anak usaha dari maskapai nasional Garuda Indonesia, tengah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan. Perusahaan penyedia jasa perawatan pesawat ini berencana melakukan aksi korporasi besar melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau yang lebih dikenal dengan istilah rights issue.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Selain untuk memperkokoh fondasi keuangan, rencana penambahan modal ini juga bertujuan untuk memenuhi ketentuan terkait jumlah saham yang beredar di publik (free float). Melalui langkah ini, GMFI berharap dapat meningkatkan likuiditas sahamnya di pasar modal sekaligus memperluas ruang gerak bisnis di industri perawatan pesawat yang kian kompetitif.

Berdasarkan informasi terbaru yang dirilis perusahaan, GMFI berencana menerbitkan hingga 22.029.751.488 saham baru Seri B. Setiap saham tersebut memiliki nilai nominal sebesar Rp19. Namun, perlu dicatat bahwa angka tersebut masih bersifat estimasi. Jumlah pasti dari emisi saham baru ini nantinya akan ditentukan berdasarkan ketentuan hukum dan kebutuhan riil perseroan saat pelaksanaan berlangsung.
Rencana ambisius ini masih harus melewati beberapa tahapan formal. Perseroan dijadwalkan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis, 19 November 2026, guna mendapatkan restu dari para pemegang saham. Selain itu, proses ini juga memerlukan pernyataan pendaftaran yang efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelum eksekusi penambahan modal dapat dilakukan secara resmi.
Terkait harga pelaksanaan, manajemen belum menetapkan angka pasti. Informasi mengenai harga per saham akan disampaikan secara transparan kepada publik melalui prospektus yang akan diterbitkan di kemudian hari.
Lantas, untuk apa dana segar hasil rights issue tersebut? Manajemen mengungkapkan bahwa dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk berbagai agenda strategis. Fokus utamanya adalah mendukung investasi dan pengembangan usaha, mengoptimalkan struktur pendanaan, serta memperkuat modal kerja perusahaan.
Secara lebih mendalam, dana hasil emisi—setelah dikurangi biaya emisi—akan digunakan untuk ekspansi bisnis, baik secara langsung maupun melalui anak perusahaan. Hal ini mencakup pengembangan kapasitas dan kapabilitas usaha, peremajaan mesin serta peralatan teknis, pendirian entitas bisnis baru, hingga pembelian aset yang menunjang operasional. Selain itu, dana tersebut juga akan menjadi napas bagi kebutuhan modal kerja guna memastikan operasional perusahaan tetap berjalan optimal.
Meski membawa angin segar bagi pertumbuhan perusahaan, investor perlu memperhatikan risiko dilusi. Manajemen mengingatkan bahwa pemegang saham yang tidak mengambil haknya dalam rights issue ini berpotensi mengalami penurunan persentase kepemilikan. Jika seluruh hak memesan efek tersebut diambil oleh pemegang saham yang berhak, maka potensi dilusi kepemilikan diperkirakan mencapai angka maksimal 15 persen.
