agroplus.co.id – Upaya Amerika Serikat (AS) dan sekutunya dalam memperketat sanksi ekonomi terhadap Rusia tampaknya menemui jalan buntu baru. Sebuah bank regional asal China, Zhejiang Chouzhou Commercial Bank, kini tengah menjadi sorotan tajam setelah diduga menjadi pintu masuk utama bagi perusahaan-perusahaan Rusia untuk menyusup ke dalam sistem keuangan global. Praktik ini memungkinkan aliran dana untuk barang-barang terlarang tetap mengalir meski di bawah pengawasan ketat Barat.
Berdasarkan investigasi mendalam terhadap ribuan dokumen transaksi perbankan, bank yang berbasis di Kota Yiwu, Provinsi Zhejiang ini terdeteksi melayani lebih dari 50 perusahaan yang terlibat dalam perdagangan barang sensitif ke Rusia. Barang-barang tersebut meliputi komponen elektronik, bahan kimia industri, hingga jasa lainnya yang seharusnya tidak dapat diakses oleh Rusia akibat sanksi internasional.

Celah yang digunakan oleh Rusia adalah mekanisme correspondent banking. Dalam sistem ini, bank lokal yang tidak memiliki cabang internasional dapat menawarkan layanan transaksi lintas negara dengan menumpang pada rekening bank besar di Wall Street. Pola transaksi berlapis ini menciptakan "kabut" informasi yang sangat efektif untuk menyamarkan identitas asli pembeli dan jenis barang yang sebenarnya sedang diperdagangkan.
Salah satu skenario yang mencolok terjadi pada awal 2025. Sebuah perusahaan Rusia diketahui melakukan pembelian komponen senilai US$73.000 untuk kebutuhan sistem perang elektronik melalui distributor di Hong Kong. Transaksi ini melibatkan First Abu Dhabi Bank dari Uni Emirat Arab yang mengirimkan dana ke rekening Chouzhou di Bank of America. Karena sifat transaksi koresponden, Bank of America hanya menerima perintah transfer tanpa rincian barang, sehingga aktivitas ilegal tersebut luput dari radar pengawasan.
Tak hanya itu, keterlibatan perusahaan cangkang di Kirgistan yang bekerja untuk firma keuangan Moskow, A7, juga terungkap. Mereka dilaporkan telah melakukan pembelian barang terlarang senilai lebih dari US$10 juta melalui jaringan bank yang memiliki rekening di Chouzhou.
Meskipun Bank of America telah memutuskan hubungan kerja sama dengan Chouzhou pada Juni 2025, bank tersebut terbukti sangat tangguh dalam mencari celah baru. Data dari platform kepatuhan BankCheck menunjukkan bahwa Chouzhou segera membuka dua rekening dolar baru di Citibank dan Standard Chartered yang hingga kini masih aktif beroperasi.
Secara skala, Chouzhou memiliki pengaruh yang mengejutkan bagi bank seukuran mereka. Bank yang berdiri sejak 1987 ini melayani akses rekening dolar bagi hampir 70 bank lain, sebagian besar di wilayah berisiko tinggi. Angka ini jauh melampaui raksasa perbankan dunia seperti ICBC yang hanya melayani 20 bank, atau HSBC di London yang hanya melayani tujuh bank.
Meski secara resmi mengaku telah berhenti bertransaksi langsung dengan Rusia dan Belarusia sejak awal 2024, Chouzhou tetap aktif melayani bank-bank di negara-negara yang dianggap sebagai "jalur tikus" penghindaran sanksi, seperti Kirgistan, Georgia, dan Uzbekistan. Dengan kemampuan memproses pembayaran dalam 27 mata uang, bank ini menjadi pemain kunci yang sangat sulit ditembus oleh regulasi ekonomi Barat.
