agroplus.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan pekan ini dengan performa yang sangat impresif. Pada penutupan sesi perdagangan Jumat (9/10/2026), indeks saham Indonesia tersebut sukses mendarat di zona hijau dengan penguatan signifikan sebesar 1,04 persen. IHSG tercatat berakhir di level 6.093,76, atau melonjak sebanyak 62,47 poin dari penutupan sebelumnya.
Perjalanan indeks sepanjang hari perdagangan berlangsung cukup dramatis dan penuh dinamika. Sejak pembukaan pasar, IHSG sudah menunjukkan pergerakan yang aktif di level 6.039,01. Sempat terjadi tekanan jual yang cukup kuat hingga indeks sempat merosot ke level terendah di 5.995,82, yang berarti sempat menembus batas psikologis di bawah angka 6.000. Namun, momentum pembalikan arah (reversal) terjadi dengan cepat. Indeks perlahan bangkit dan terus menanjak hingga sempat menyentuh level tertinggi di 6.100,58 sebelum akhirnya konsolidasi di dekat level puncak pada penutupan.

Aktivitas transaksi di bursa juga menunjukkan antusiasme investor yang tinggi. Volume perdagangan tercatat mencapai 353,12 juta lot saham dengan nilai transaksi yang menembus angka Rp8,44 triliun. Kekuatan penggerak pasar hari ini didominasi oleh 407 saham yang bergerak menguat, sementara 245 saham lainnya mengalami pelemahan, dan 311 saham lainnya bergerak stagnan tanpa perubahan harga.
Berdasarkan data dari Refinitiv, sektor industri menjadi motor utama penggerak IHSG dengan kenaikan mencapai 2,1 persen. Sektor material dasar menyusul dengan pertumbuhan 1,7 persen, diikuti oleh sektor konsumer non-kritikal yang naik 1 persen. Beberapa saham "blue chip" yang menjadi tulang punggung penguatan indeks antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI). Di sisi lain, tekanan datang dari saham-saham seperti PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS), dan PT Timah (Persero) Tbk. (TINS).
Kondisi pasar global turut memberikan warna pada pergerakan indeks. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait pernyataan Donald Trump mengenai Iran, telah memicu fluktuasi harga energi dunia. Harga minyak Brent bahkan sempat melonjak hingga menembus US$104 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan. Selain itu, rilis risalah rapat Bank Sentral Eropa (ECB) yang menunjukkan adanya risiko inflasi yang masih mengintai turut menambah kompleksitas sentimen pasar global.
Di dalam negeri, perhatian investor kini tertuju pada data penjualan ritel untuk mengukur daya beli masyarakat, menyusul sedikit penurunan pada Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dilaporkan Bank Indonesia. Meskipun demikian, optimisme pasar tetap terjaga seiring dengan prospek investasi hilirisasi dan pengelolaan APBN yang menjadi fokus pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
