agroplus.co.id – Sektor asuransi dan dana pensiun menunjukkan kepercayaan yang sangat tinggi terhadap stabilitas ekonomi nasional. Hal ini dibuktikan dengan besarnya aliran dana yang mereka kucurkan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN). Berdasarkan data terbaru, kedua institusi keuangan domestik tersebut telah menyerap SBN dengan nilai neto mencapai Rp137,4 triliun hingga akhir September 2026.
Angka tersebut mencerminkan dominasi investor institusi dalam negeri, di mana porsi pembelian mereka mencapai 27,62 persen dari total realisasi SBN neto yang terkumpul sebesar Rp497,5 triliun. Fenomena ini menjadi sinyal positif bahwa lembaga keuangan jangka panjang di Indonesia memiliki keyakinan kuat terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola pembiayaan negara.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, mengungkapkan bahwa dukungan dari investor institusi domestik tergolong sangat solid. Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, pembelian neto oleh sektor asuransi dan dana pensiun ini mengalami pertumbuhan sebesar 10,6 persen. Di sisi lain, lembaga keuangan lainnya juga turut berkontribusi dengan pembelian neto senilai Rp100,6 triliun, atau tumbuh sebesar 15,5 persen.
Suminto menjelaskan bahwa secara keseluruhan, kinerja pembiayaan utang pemerintah hingga kuartal ketiga tahun 2026 berjalan sesuai dengan jalur yang direncanakan (on track). Hingga September, realisasi utang neto tercatat sebesar Rp494,3 triliun, atau setara dengan 59,4 persen dari target tahunan. Komposisi ini terdiri dari SBN neto sebesar Rp497,5 triliun dan pinjaman neto negatif sebesar Rp3,2 triliun.
Strategi pembiayaan utang pemerintah pada tahun 2026 memang dirancang secara hati-hati. Fokus utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan belanja APBN dengan biaya dana (cost of fund) yang tetap efisien. Selain itu, pemerintah juga berupaya menjaga risiko agar tetap terkendali melalui pengelolaan portofolio utang yang optimal, dengan menyeimbangkan antara aspek biaya dan risiko (cost and risk trade-off).
Kinerja lelang SBN juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Untuk Surat Utang Negara (SUN), rasio penawaran terhadap permintaan (bid to cover ratio) mencapai 1,87 kali. Sementara itu, untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), rasionya bahkan lebih tinggi, yakni mencapai 2,52 kali.
Tak hanya investor domestik, minat investor asing pun tidak kalah besar. Partisipasi asing dalam lelang SBN menunjukkan angka yang cukup impresif dengan bid to cover ratio sebesar 1,9 kali untuk SUN dan 3,1 kali untuk SBSN. Aktivitas investor asing di pasar primer maupun sekunder juga memberikan dampak positif terhadap aliran modal masuk (capital inflow) ke pasar SBN, yang tercatat mencapai Rp36,7 triliun hingga awal Oktober 2026.
Selain instrumen institusi, SBN ritel juga mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat. Total penerbitan SBN ritel telah menembus angka Rp124,32 triliun, yang terbagi ke dalam dua seri SUN dan tiga seri SBSN. Pemerintah juga sukses melakukan diversifikasi melalui penerbitan SBN valuta asing (aluta) dalam empat mata uang utama, yakni dolar AS, euro, yen Jepang, dan renminbi China, dengan total nilai ekuivalen US$14,76 miliar.
