agroplus.co.id – Bank Indonesia (BI) menegaskan kesiapannya untuk mengambil langkah ekstrem demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, memberikan sinyal kuat bahwa pihaknya tidak akan ragu untuk melakukan intervensi pasar secara agresif atau "bold" jika tekanan terhadap mata uang Garuda semakin tidak terkendali.
Langkah tegas ini disiapkan sebagai antisipasi terhadap berbagai sentimen negatif yang datang dari pasar keuangan global. Menurut Destry, saat ini sumber utama dari fluktuasi nilai tukar bukan berasal dari dalam negeri, melainkan dipicu oleh dinamika ekonomi internasional yang sedang memanas.

"Jika memang diperlukan, kami akan melakukan intervensi yang lebih berani. Kami melihat bahwa sumber utama dari gejolak yang terjadi saat ini mayoritas berasal dari faktor global," ujar Destry dalam sebuah diskusi ekonomi yang dilansir melalui agroplus.co.id.
Salah satu kekhawatiran utama yang membayangi stabilitas ekonomi adalah eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah. Konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda tersebut berisiko memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga energi ini biasanya diikuti dengan penguatan dolar Amerika Serikat (AS), yang secara otomatis akan memberikan tekanan depresiasi pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski situasi global tampak mencekam, Destry memberikan catatan positif mengenai kondisi fundamental ekonomi domestik. Ia menilai bahwa ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang relatif lebih terkendali dan mampu mengelola tantangan yang ada.
Sebagai bukti ketahanan ekonomi, Destry menyoroti kinerja neraca perdagangan Indonesia yang menunjukkan tren positif. Indonesia tercatat sempat meraih surplus perdagangan yang signifikan, mencapai angka US$ 3,3 miliar. Lonjakan surplus ini didorong oleh kenaikan harga komoditas di pasar internasional yang turut mendongkrak nilai ekspor nasional.
Dalam menentukan kebijakan intervensi, Bank Indonesia tidak hanya melihat pergerakan rupiah secara mandiri. BI juga akan melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan mata uang negara-negara tetangga yang memiliki karakteristik ekonomi serupa dengan Indonesia.
"Kami akan memantau bagaimana pergerakan mata uang negara lain yang setara dengan kita, seperti Peso Filipina atau Baht Thailand. Kami melihat apakah pergerakan mereka cenderung stabil atau justru ikut bergejolak," tambah Destry.
Dengan membandingkan performa rupiah terhadap mata uang regional lainnya, BI dapat mengukur apakah pelemahan rupiah disebabkan oleh faktor spesifik domestik atau memang merupakan dampak sistemik dari sentimen global. Langkah pemantauan komprehensif ini diharapkan dapat membuat kebijakan intervensi BI menjadi lebih tepat sasaran dan efektif dalam menjaga stabilitas moneter nasional.
