agroplus.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang sangat impresif pada perdagangan sesi pertama hari Selasa (6/10/2026). Bursa saham Indonesia berhasil mencatatkan penguatan signifikan dengan kenaikan mencapai 1,26 persen, yang membawa posisi indeks ke level 6.196,09. Lonjakan ini setara dengan penambahan 77,23 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Perjalanan IHSG pada pagi hari ini dimulai dengan pembukaan di level 6.139,13. Meskipun sempat mengalami tekanan dan menyentuh titik terendah intraday di level 6.120,24, namun kepercayaan investor kembali pulih dengan cepat. Indeks kemudian bergerak naik secara bertahap hingga sempat menyentuh level tertinggi di angka 6.203,70. Walaupun sempat terjadi koreksi tipis menjelang tengah hari, IHSG tetap mampu bertahan kokoh di zona hijau.

Aktivitas transaksi di lantai bursa juga terlihat sangat dinamis. Tercatat volume perdagangan mencapai 286,1 juta lot dengan nilai transaksi yang menembus angka Rp5,62 triliun. Angka ini menunjukkan adanya aliran dana yang cukup besar yang masuk ke pasar modal Indonesia pada sesi pertama ini.
Jika menilik lebih dalam, penguatan indeks didorong oleh performa gemilang sektor energi yang melesat hingga 3,08 persen. Tak ketinggalan, sektor teknologi juga memberikan kontribusi positif dengan kenaikan 2,1 persen, disusul oleh sektor industri yang tumbuh 1,6 persen. Beberapa saham yang menjadi motor penggerak utama kenaikan IHSG antara lain adalah PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), serta PT DCI Indonesia Tbk. (DCII).
Namun, tidak semua saham bergerak searah dengan indeks. Beberapa emiten justru memberikan tekanan terhadap pergerakan IHSG, di antaranya adalah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA), PT Rockfields Properti Indonesia Tbk. (ROCK), dan PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO).
Sentimen global turut mewarnai dinamika pasar hari ini. Di kawasan Asia, terdapat kabar mengenai melambatnya aktivitas jasa di Jepang yang dibarengi dengan penurunan kepercayaan konsumen. Sementara itu, di zona Euro, sektor jasa menunjukkan penguatan, meski ancaman inflasi dari kenaikan harga produsen masih membayangi prospek pertumbuhan ekonomi di sana.
Di sisi lain, pasar global juga tengah mencermati pidato Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda serta rilis data neraca perdagangan Amerika Serikat. Ketidakpastian ekonomi global juga terlihat dari lonjakan imbal hasil US Treasury tenor panjang yang mencapai level tertinggi dalam dua dekade terakhir, yang memicu kewaspadaan para investor terhadap kebijakan moneter global ke depan.
Dari sisi domestik, pasar modal Indonesia tengah disorot terkait banyaknya rencana penawaran umum (IPO) yang sedang mengantre. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada 29 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif mencapai Rp26,47 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia masih sangat mengandalkan pasar modal sebagai instrumen utama untuk memperkuat struktur pendanaan mereka.
