agroplus.co.id – Dunia teknologi global tengah dikejutkan oleh pengakuan berani dari Anthropic, perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) di balik model populer Claude. Dalam dokumen prospektus persiapan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO), perusahaan ini secara terbuka mengungkapkan adanya risiko "eksistensial" yang dapat mengancam keberlangsungan peradaban manusia akibat kemajuan teknologi AI yang sangat pesat.
Pengakuan ini menjadi sangat krusial mengingat Anthropic tengah bersiap melantai di bursa saham dengan valuasi yang diprediksi menembus angka fantastis, yakni mencapai US$2 triliun. Pernyataan mengenai risiko katastrofik ini dianggap sebagai langkah yang sangat tidak biasa bagi sebuah perusahaan yang sedang mengejar status perusahaan publik.

Selain ancaman terhadap umat manusia, Anthropic juga menyoroti besarnya pengaruh kebijakan pemerintah terhadap masa depan bisnis mereka. Perusahaan memperingatkan bahwa sikap pemerintah terhadap teknologi AI dapat berdampak luas, mulai dari hubungan dengan pelanggan komersial hingga kemitraan strategis dengan berbagai pihak.
Dalam dokumen tersebut, Anthropic menekankan bahwa persepsi pemerintah terhadap perusahaan tidak hanya berdampak pada operasional internal, tetapi juga dapat merembet ke seluruh ekosistem bisnis mereka. Jika pemerintah mengambil langkah yang tidak sejalan dengan perkembangan teknologi ini, dampaknya bisa merusak reputasi perusahaan melalui pemberitaan negatif dan sorotan publik yang masif.
Menariknya, meskipun risiko regulasi ini sangat besar, Anthropic mencatat bahwa pendapatan dari kontrak badan pemerintah saat ini masih sangat kecil, yakni kurang dari 1% dari total pendapatan tahunan mereka. Namun, ketergantungan pada regulasi tetap menjadi bayang-bayang yang nyata. Sebagai contoh, perusahaan pernah mengalami hambatan operasional akibat pembatasan dari Departemen Perdagangan AS, meskipun pembatasan tersebut akhirnya dicabut. Anthropic memperingatkan bahwa situasi serupa bisa saja terulang kembali di masa depan.
Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya pengawasan ketat terhadap industri AI secara global. CEO Anthropic, Dario Amodei, sebelumnya sempat menyerukan agar industri AI memperlambat laju pengembangannya. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran atas aktivitas peretasan oleh agen AI otonom yang tidak terkendali serta persaingan global yang semakin sengit.
Saat ini, Anthropic juga tengah berada di bawah radar otoritas pengawas. Komisi Perdagangan Federal (FTC) Amerika Serikat dilaporkan sedang melakukan penyelidikan lintas industri terhadap berbagai perusahaan AI, termasuk Anthropic. Di sisi lain, dinamika politik di Amerika Serikat juga turut memengaruhi arah regulasi. Meskipun ada desakan kuat untuk memperketat aturan AI, tokoh politik seperti Donald Trump cenderung menolak seruan regulasi yang terlalu ketat tersebut.
Dengan segala kompleksitas antara potensi keuntungan ekonomi yang masif dan risiko kehancuran peradaban, langkah Anthropic menuju IPO kini menjadi ujian besar bagi kepercayaan investor di seluruh dunia.
