agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia menunjukkan dinamika yang cukup kontras pada perdagangan sesi I, Jumat (2/10/2026). Di tengah tekanan yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak ke zona merah, para investor asing justru terlihat melakukan aksi beli pada sejumlah saham pilihan. Meski demikian, arus modal keluar (net sell) dari investor asing tercatat masih cukup dominan dalam perdagangan siang ini.
Berdasarkan data pergerakan pasar, IHSG menutup sesi pertama dengan penurunan sebesar 20,49 poin atau melemah 0,34 persen, sehingga bertengger di level 5.989,02. Pelemahan ini sejalan dengan catatan transaksi investor asing yang mencatatkan penjualan bersih (net sell) mencapai Rp2,87 triliun, sementara total pembelian mereka berada di angka Rp1,70 triliun. Dengan demikian, terdapat selisih aliran modal keluar sebesar Rp1,17 triliun selama sesi pertama berlangsung.

Meskipun pasar secara keseluruhan mengalami tekanan, investor asing nampaknya masih melihat peluang pada beberapa emiten tertentu. Salah satu saham yang menjadi primadona adalah PT Astra International Tbk. (ASII) dengan nilai pembelian mencapai Rp19,54 miliar. Selain ASII, emiten Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) juga masuk dalam radar belanja asing dengan nilai Rp16,58 miliar.
Daftar saham yang diburu asing juga mencakup sektor komoditas dan industri lainnya, seperti PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) senilai Rp10,26 miliar, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) sebesar Rp6,22 miliar, serta PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) sebesar Rp5,94 miliar. Tak ketinggalan, PT United Tractors Tbk. (UNTR), PT Petrosea Tbk. (PTRO), PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI), dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA) juga masuk dalam daftar saham yang mengalami akumulasi beli oleh asing.
Di sisi lain, tekanan jual terbesar justru datang dari raksasa teknologi, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp844,04 miliar. Selain GOTO, sejumlah bank besar juga mengalami aksi jual oleh investor asing, di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar Rp93,66 miliar, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) sebesar Rp55,57 miliar, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar Rp47,16 miliar.
Menjelang penutupan pasar hari ini, pelaku pasar masih harus waspada terhadap berbagai sentimen yang berpotensi memicu volatilitas. Dari sisi domestik, isu mengenai reshuffle kabinet, penerapan aturan short selling, serta rilis data manufaktur, neraca perdagangan, dan angka inflasi akan menjadi fokus utama.
Sementara itu, dari kancah internasional, pasar global masih dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik terkait konflik perang, fluktuasi harga minyak, serta rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, seperti data klaim pengangguran, ISM Manufacturing, hingga non-farm payrolls. Selain itu, data inflasi di Zona Euro dan tingkat pengangguran di Jepang juga diprediksi akan memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan pasar modal di Indonesia.
