Close Menu
    What's Hot

    Rupiah Terperosok ke Level Rp17.940 per Dolar

    02-10-2026 - 05.06

    Wajah Baru Manajemen Tugu Insurance

    02-10-2026 - 05.02

    Standar Global Hadir di Pasar Lokal

    02-10-2026 - 02.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Rupiah Terperosok ke Level Rp17.940 per Dolar
    • Wajah Baru Manajemen Tugu Insurance
    • Standar Global Hadir di Pasar Lokal
    • Investor Borong Saham LUCY di Atas Harga Pasar
    • Profil Harta Wamenkeu Baru Nurkholisoh
    • Strategi Hijau AZKO Menuju 2030
    • Profil Kekayaan Wamenkeu Baru Luky Alfirman
    • OONA Indonesia Jual Saham ABDA
    Jumat, 2 Oktober 2026
    agroplus
    Home - Pangan - Rupiah Terperosok ke Level Rp17.940 per Dolar
    Pangan

    Rupiah Terperosok ke Level Rp17.940 per Dolar

    02-10-2026 - 05.063 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    agroplus.co.id – Mata uang Garuda kembali menunjukkan tren negatif pada pembukaan perdagangan bulan Oktober ini. Setelah sempat mencatatkan performa impresif dengan penguatan tajam pada hari sebelumnya, nilai tukar rupiah justru harus menyerah dan berakhir di zona merah saat berhadapan dengan dolar Amerika Serikat (AS).

    Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah ditutup melemah sebesar 0,39% pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Mata uang kebanggaan Indonesia ini mendarat di level Rp17.940 per dolar AS. Kondisi ini menjadi sebuah pembalikan arah yang cukup kontras, mengingat pada hari Rabu kemarin, rupiah sempat menguat 0,50% ke posisi Rp17.870 per dolar AS. Secara nominal, pelemahan ini setara dengan penurunan sebesar 70 poin dari penutupan sebelumnya.

    Rupiah Terperosok ke Level Rp17.940 per Dolar
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Tekanan terhadap rupiah ini tidak lepas dari dominasi dolar AS di pasar global. Indeks dolar (DXY), yang menjadi barometer kekuatan mata uang Amerika terhadap enam mata uang utama dunia lainnya, terpantau merangkak naik 0,23% ke level 101,678 pada pukul 15.00 WIB. Lonjakan indeks ini mengindikasikan bahwa permintaan pasar terhadap aset berdenominasi dolar masih sangat masif, yang secara otomatis mempersempit ruang gerak bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

    Dolar AS bahkan berhasil menyentuh level tertingginya dalam kurun waktu lebih dari tiga bulan. Fenomena ini didorong oleh kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury. Situasi geopolitik yang memanas, terutama ketegangan antara AS-Israel dengan Iran, memicu kekhawatiran akan adanya tekanan inflasi global yang lebih besar. Meskipun data inflasi di Amerika Serikat sebenarnya menunjukkan angka yang lebih rendah dari ekspektasi awal—yang sempat meredam spekulasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober—namun pasar justru bereaksi dengan menguatkan posisi dolar.

    Hal ini terlihat dari imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang melonjak ke level 5,33%, angka tertinggi yang pernah tercatat sejak tahun 2002. Selain itu, pasar obligasi global juga tengah mengalami guncangan hebat dengan mencatatkan penurunan bulanan terbesar dalam beberapa tahun terakhir pada bulan September lalu. Faktor fiskal negara yang memburuk serta tingginya penerbitan obligasi menjadi pemicu utama ketidakpastian ini.

    Di sisi domestik, para pelaku pasar kini tengah menaruh perhatian besar pada rilis data inflasi Indonesia untuk periode September 2026. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya kenaikan inflasi bulanan menjadi 0,30% pada September, naik dari angka 0,21% di bulan Agustus. Secara tahunan, inflasi Indonesia juga merangkak naik ke level 3,28% dari sebelumnya 3,19%.

    Meskipun tekanan harga umum mulai terasa, kabar baik datang dari inflasi inti yang justru melandai ke angka 2,84% secara tahunan. Secara keseluruhan, angka inflasi tahunan Indonesia masih berada dalam koridor sasaran Bank Indonesia, yakni di rentang 1,5% hingga 3,5%. Namun sayangnya, stabilitas inflasi domestik ini nampaknya belum cukup kuat untuk membendung arus penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang sedang melanda pasar global.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Wajah Baru Manajemen Tugu Insurance

    02-10-2026 - 05.02

    Standar Global Hadir di Pasar Lokal

    02-10-2026 - 02.06

    Investor Borong Saham LUCY di Atas Harga Pasar

    02-10-2026 - 02.02

    Profil Harta Wamenkeu Baru Nurkholisoh

    02-10-2026 - 00.06

    Strategi Hijau AZKO Menuju 2030

    02-10-2026 - 00.02

    Profil Kekayaan Wamenkeu Baru Luky Alfirman

    01-10-2026 - 23.06
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Rupiah Terperosok ke Level Rp17.940 per Dolar

    agroplus.co.id – Mata uang Garuda kembali menunjukkan tren negatif pada pembukaan perdagangan bulan Oktober ini.…

    Wajah Baru Manajemen Tugu Insurance

    02-10-2026 - 05.02

    Standar Global Hadir di Pasar Lokal

    02-10-2026 - 02.06

    Investor Borong Saham LUCY di Atas Harga Pasar

    02-10-2026 - 02.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.