agroplus.co.id – Dinamika ekonomi global tengah berada dalam fase yang penuh ketidakpastian. Setelah gelombang kenaikan suku bunga melanda berbagai bank sentral di negara-negara maju, perhatian pasar kini tertuju pada langkah Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Spekulasi mengenai kebijakan moneter Amerika Serikat ini secara otomatis memicu pertanyaan besar di pasar domestik: apakah Bank Indonesia (BI) akan ikut mengambil langkah serupa untuk mengerek suku bunga acuan dalam tiga bulan terakhir tahun ini?
Pasar keuangan global saat ini tengah bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed yang diprediksi akan terjadi satu kali lagi pada akhir Oktober mendatang. Berdasarkan data dari CME FedWatch, terdapat peluang sebesar 65 persen bahwa otoritas moneter Amerika tersebut akan kembali menaikkan suku bunga. Kondisi "higher for longer" atau tren suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama ini menjadi tantangan serius bagi stabilitas ekonomi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Menanggapi isu tersebut, pihak Bank Indonesia memberikan sinyal yang sangat berhati-hati. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa setiap keputusan mengenai suku bunga acuan akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi terkini atau bersifat data dependent. Ia enggan memberikan bocoran pasti mengenai arah kebijakan moneter untuk rapat dewan gubernur (RDG) pada bulan November maupun Desember mendatang.
Erwin menjelaskan bahwa BI selalu melakukan asesmen mendalam terhadap prospek ekonomi nasional sebelum mengambil keputusan. Fokus utama bank sentral adalah menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar rupiah dan upaya mendukung pertumbuhan ekonomi agar tetap terjaga di tengah tekanan global.
Hingga saat ini, Bank Indonesia masih mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen. Kebijakan ini telah dipertahankan selama empat bulan berturut-turut sejak Juni 2026. Namun, para pengamat ekonomi melihat adanya potensi perubahan arah kebijakan dalam waktu dekat.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, memproyeksikan bahwa peluang BI untuk menaikkan suku bunga di kuartal keempat tahun 2026 semakin terbuka lebar. Bahkan, ia melakukan revisi terhadap perkiraan BI Rate yang diprediksi bisa menyentuh angka 6,00 persen pada akhir tahun. Hal ini dipicu oleh langkah The Fed yang tetap agresif dalam kebijakan moneter mereka.
Selain faktor eksternal dari Amerika Serikat, tekanan inflasi domestik juga menjadi perhatian. Fenomena alam seperti El Nino yang mengancam ketahanan pangan dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, yang pada akhirnya menuntut respons cepat dari BI. Senada dengan hal tersebut, M. Rizal Taufikurahman dari INDEF menambahkan bahwa risiko depresiasi rupiah yang tajam dan potensi arus modal keluar (capital outflow) akan menjadi faktor penentu utama bagi BI untuk menaikkan suku bunga guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
