agroplus.co.id – Mata uang Garuda menunjukkan taringnya setelah sempat terpuruk di awal perdagangan. Rupiah berhasil membalikkan keadaan dan mencatatkan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan pasar Selasa (29/9/2026). Pergerakan positif ini menjadi angin segar setelah sebelumnya sempat tertekan hebat oleh dominasi mata uang greenback.
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah menutup sesi perdagangan pada level Rp17.960 per dolar AS. Meskipun kenaikan ini hanya sebesar 0,03%, pencapaian tersebut sangat berarti karena berhasil membalikkan tren pelemahan pada perdagangan Senin (28/9/2026) yang sempat merosot 0,48% ke level Rp17.965/US$.

Drama terjadi di awal sesi perdagangan hari ini. Rupiah sempat mengalami tekanan hebat hingga menyentuh titik terendahnya di angka Rp18.010 per dolar AS. Kondisi ini sempat memicu kekhawatiran pasar akan depresiasi yang lebih dalam. Namun, berkat daya tahan yang kuat, mata uang nasional mampu bangkit sekitar 40 poin dari titik nadir tersebut dan berhasil mengakhiri hari di zona hijau.
Di sisi lain, kekuatan dolar AS melalui indeks dolar (DXY) terpantau masih cukup tangguh. Hingga pukul 15.00 WIB, indeks tersebut naik 0,14% ke posisi 101,338, yang menunjukkan bahwa tekanan global terhadap mata uang negara berkembang masih cukup signifikan.
Menanggapi dinamika ini, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah merupakan hasil kombinasi antara sentimen global yang tidak menentu dan kebutuhan valuta asing domestik. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa ketidakpastian inflasi global dan risiko fiskal menjadi pemicu utama penguatan dolar.
Salah satu faktor pemicu adalah lonjakan harga minyak mentah yang menembus angka US$108 per barel akibat ketegangan geopolitik di Selat Hormuz. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan memperketat kebijakan moneter lebih lanjut. Dampaknya, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke level 5,23%, angka tertinggi sejak tahun 2007.
Selain faktor eksternal, kebutuhan dolar dari para importir dalam negeri menjelang akhir kuartal III-2026 juga turut menekan nilai tukar. Ditambah lagi dengan adanya arus modal keluar dari pasar aset negara berkembang.
Meski demikian, BI tetap optimis. Cadangan devisa Indonesia yang tercatat kuat di angka US$146,5 miliar per akhir Agustus 2026 menjadi bantalan yang kokoh untuk menjaga stabilitas. BI menegaskan akan terus melakukan intervensi melalui berbagai instrumen, mulai dari pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna memastikan rupiah bergerak sesuai dengan fundamental ekonominya.
