agroplus.co.id – Peta kekuatan ekonomi di Indonesia kembali mengalami pergeseran yang cukup signifikan pada September 2026. Dinamika pasar global serta fluktuasi harga komoditas dunia telah memicu perubahan posisi pada daftar orang terkaya di tanah air. Meski beberapa nama besar yang sudah lama dikenal masih mampu mempertahankan dominasinya, persaingan di papan atas kini semakin ketat dan tidak terduga.
Perubahan posisi puncak ini menjadi bukti betapa sensitifnya kekayaan para taipan nasional terhadap pergerakan pasar saham dan kondisi ekonomi makro. Sektor-sektor strategis seperti energi, perbankan, hingga pertambangan tetap menjadi tulang punggung utama yang menyokong aset para konglomerat ini. Namun, koreksi pasar saham yang terjadi sepanjang tahun berjalan turut memberikan dampak langsung pada nilai aset bersih mereka.

Kejutan terbesar dalam daftar terbaru ini datang dari sektor pertambangan. Dato’ Low Tuck Kwong, sosok di balik kesuksesan raksasa tambang batu bara PT Bayang Resources Tbk (BYAN), berhasil merebut posisi pertama sebagai orang terkaya di Indonesia. Kekayaan sang taipan kini diperkirakan menyentuh angka US$17,2 miliar atau jika dikonversikan ke dalam rupiah mencapai Rp308,68 triliun.
Keberhasilan Low Tuck Kwong ini sekaligus menggeser posisi para pengusaha besar lainnya. Ia berhasil menyalip Prajogo Pangestu yang kini harus puas berada di peringkat kedua dengan total kekayaan sebesar US$16,1 miliar atau setara dengan Rp288,76 triliun. Sementara itu, Robert Budi Hartono, yang selama ini sering menduduki posisi puncak, kini berada di urutan ketiga dengan nilai aset mencapai US$15,8 miliar atau sekitar Rp283,38 triliun.
Melanjutkan daftar lima besar, posisi keempat ditempati oleh Anthoni Salim. Penguasa Indofood Group ini tetap menunjukkan ketangguhan ekonominya dengan total kekayaan mencapai US$10,8 miliar atau setara dengan Rp193,78 triliun. Meskipun tidak berada di tiga besar, pengaruh bisnis Salim di sektor konsumsi menjadikannya salah satu figur paling berpengaruh di Indonesia.
Melengkapi daftar elit tersebut, posisi kelima ditempati oleh Dato’ Sri Tahir, pemilik Mayapada Group. Ia tercatat memiliki kekayaan sebesar US$9,4 miliar atau jika dirupiahkan mencapai Rp168,54 triliun.
Perubahan daftar ini mencerminkan betapa dinamisnya lanskap bisnis di Indonesia. Ketergantungan pada sektor komoditas seperti batu bara yang dimiliki oleh Low Tuck Kwong menunjukkan bahwa sektor energi masih memiliki daya ungkit yang sangat besar terhadap akumulasi kekayaan di Indonesia. Di sisi lain, fluktuasi harga komoditas global akan terus menjadi faktor penentu apakah posisi para taipan ini akan tetap bertahan atau kembali berganti di periode mendatang. Melansir laporan dari agroplus.co.id, pergerakan ini menjadi sinyal penting bagi para investor untuk terus memantau sektor-sektor kunci yang menggerakkan roda ekonomi nasional.
