agroplus.co.id – Dunia pasar modal tanah air tengah dihebohkan oleh rencana aksi korporasi besar yang melibatkan PT Jhonlin Baratama dalam upaya mengakuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Kabar ini memicu spekulasi di kalangan investor mengenai keterkaitan dan dampak finansial terhadap PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR). Menanggapi kegaduhan tersebut, manajemen JARR akhirnya angkat bicara untuk memberikan klarifikasi resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Langkah klarifikasi ini diambil menyusul adanya permintaan penjelasan dari otoritas bursa terkait keterbukaan informasi yang sebelumnya telah disampaikan oleh BYAN. Informasi tersebut berkaitan dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat atau Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) yang menjadi landasan rencana akuisisi tersebut. Investor pun mulai bertanya-tanya, apakah langkah agresif Jhonlin Baratama ini akan menyeret kondisi keuangan JARR ke dalam pusaran risiko yang sama.

Dalam penjelasan tertulisnya, manajemen JARR menegaskan bahwa secara struktur kepemilikan saham, tidak ada hubungan langsung maupun tidak langsung antara JARR dengan PT Jhonlin Baratama. Meski demikian, perusahaan mengakui adanya hubungan afiliasi. Hal ini dikarenakan kedua entitas tersebut berada di bawah kendali pemilik manfaat akhir (Ultimate Beneficial Owner) yang sama, yakni sosok pengusaha ternama, H. Samsudin Andi Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam. Keduanya merupakan bagian dari ekosistem bisnis Jhonlin Group.
Namun, manajemen menekankan bahwa kesamaan pemilik tidak berarti adanya penyatuan manajemen. JARR memastikan bahwa tidak ada kesamaan dalam jajaran Direksi maupun Dewan Komisaris antara JARR dan Jhonlin Baratama. Seluruh pengurus JARR bekerja secara mandiri dan independen dengan tetap menjunjung tinggi prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG).
Menjawab kekhawatiran pasar mengenai beban finansial, JARR memberikan jaminan tegas bahwa mereka tidak terlibat dalam rencana pembelian saham BYAN tersebut. Transaksi tersebut murni merupakan langkah strategis Jhonlin Baratama yang berdiri sendiri. Lebih lanjut, JARR menyatakan tidak ada penggunaan aset, fasilitas, maupun sumber daya perusahaan untuk mendukung rencana akuisisi tersebut.
Hingga saat ini, JARR memastikan tidak ada aliran dana, pinjaman, atau dukungan pembiayaan apa pun yang dialokasikan dari kas perseroan untuk kepentingan Jhonlin Baratama dalam transaksi ini. Dengan demikian, manajemen menyimpulkan bahwa aksi korporasi tersebut tidak akan memberikan dampak material terhadap operasional, kondisi keuangan, maupun arus kas JARR. Kinerja perusahaan dipastikan tetap berjalan normal sesuai dengan rencana kerja yang telah ditetapkan sebelumnya.
Melalui pernyataan ini, JARR berharap pasar dapat melihat dengan jernih bahwa stabilitas perusahaan tetap terjaga dan tidak terganggu oleh manuver korporasi afiliasinya. Perusahaan juga berkomitmen untuk terus transparan kepada publik jika di masa depan terdapat informasi material yang dapat memengaruhi harga saham atau kelangsungan usaha mereka.
