Close Menu
    What's Hot

    Suku Bunga AS Naik Rupiah Terancam

    26-09-2026 - 05.07

    IHSG Merosot Tajam Saham Bank Jadi Beban

    26-09-2026 - 05.02

    Rupiah Terancam Tembus Rp 18000 Per Dolar

    26-09-2026 - 02.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Suku Bunga AS Naik Rupiah Terancam
    • IHSG Merosot Tajam Saham Bank Jadi Beban
    • Rupiah Terancam Tembus Rp 18000 Per Dolar
    • Aturan Baru OJK Kawal Pasar Modal
    • Misteri Transaksi Saham Bayan di Bawah Harga Pasar
    • Maybank Indonesia Buka Suara Soal Isu PHK
    • Mengapa Investor Indonesia Gemar Saham AS
    • Komisaris Medco Energi Jual Saham Besar
    Sabtu, 26 September 2026
    agroplus
    Home - Pangan - IHSG Merosot Tajam Saham Bank Jadi Beban
    Pangan

    IHSG Merosot Tajam Saham Bank Jadi Beban

    26-09-2026 - 05.023 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    agroplus.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pekan ini dengan hasil yang kurang memuaskan. Pasar modal Indonesia berakhir di zona merah setelah mengalami koreksi signifikan sebesar 0,82 persen, yang membawa posisi indeks turun sebanyak 51,54 poin ke level 6.247,07. Pelemahan ini terjadi di tengah aktivitas transaksi yang justru menunjukkan peningkatan volume yang cukup mencolok.

    Berdasarkan data aktivitas pasar, volume transaksi tercatat melonjak hingga mencapai 23,93 miliar saham. Jika dikonversi ke dalam satuan lot, total transaksi mencapai 239,26 juta lot dengan nilai transaksi yang menembus angka Rp8.139,288 triliun. Meskipun nilai transaksi sangat besar, dominasi pergerakan saham lebih banyak bergerak di zona merah, di mana sebanyak 587 saham mengalami penurunan harga, sementara hanya 122 saham yang mampu bertahan menguat.

    IHSG Merosot Tajam Saham Bank Jadi Beban
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Sektor layanan akademik dan pendidikan menjadi penyumbang kerugian terbesar dengan anjloknya indeks sektor tersebut hingga 10,26 persen. Selain itu, sektor industri dan real estate juga turut memberikan tekanan dengan penurunan masing-masing sebesar 1,9 persen dan 1,4 persen.

    Sektor perbankan, yang biasanya menjadi tulang punggung pasar, justru menjadi beban utama dalam koreksi IHSG kali ini. Beberapa saham berkapitalisasi besar yang mengalami penurunan harga antara lain PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), serta saham raksasa lainnya seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT). Di sisi lain, upaya penyelamatan pasar dilakukan oleh saham-saham seperti PT Fortune Indonesia Tbk. (FORU), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), PT Astra International Tbk. (ASII), dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG).

    Kondisi pasar global saat ini tengah dibayangi oleh ketidakpastian yang tinggi. Salah satu faktor utama adalah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pejabat Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal bahwa suku bunga acuan masih berpotensi naik guna menekan inflasi yang dinilai masih "membandel". Pernyataan dari Presiden Philadelphia Fed, Anna Paulson, serta Presiden New York Fed, John Williams, memperkuat ekspektasi pasar akan adanya pengetatan kebijakan moneter lanjutan.

    Kondisi ini diperparah dengan melonjaknya imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade terakhir. Lonjakan yield ini memicu aksi jual obligasi secara global, yang berdampak pada meningkatnya biaya pinjaman di berbagai negara. Investor kini sangat waspada terhadap potensi yield Treasury 10 tahun yang bisa menyentuh angka 6 persen, sebuah level yang dianggap dapat menekan stabilitas pasar keuangan dan korporasi secara luas.

    Selain faktor ekonomi makro, investor juga terus memantau dinamika domestik, termasuk pertumbuhan uang beredar, langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah, serta pembahasan postur APBN 2027. Di kancah internasional, fluktuasi harga minyak dan tensi konflik di Timur Tengah tetap menjadi variabel penting yang akan menentukan arah pergerakan pasar modal di masa mendatang.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Suku Bunga AS Naik Rupiah Terancam

    26-09-2026 - 05.07

    Rupiah Terancam Tembus Rp 18000 Per Dolar

    26-09-2026 - 02.06

    Aturan Baru OJK Kawal Pasar Modal

    26-09-2026 - 02.02

    Misteri Transaksi Saham Bayan di Bawah Harga Pasar

    26-09-2026 - 00.06

    Maybank Indonesia Buka Suara Soal Isu PHK

    26-09-2026 - 00.02

    Mengapa Investor Indonesia Gemar Saham AS

    25-09-2026 - 23.06
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Suku Bunga AS Naik Rupiah Terancam

    agroplus.co.id – Dinamika pasar keuangan global kini tengah berada dalam fase penuh ketidakpastian yang cukup…

    IHSG Merosot Tajam Saham Bank Jadi Beban

    26-09-2026 - 05.02

    Rupiah Terancam Tembus Rp 18000 Per Dolar

    26-09-2026 - 02.06

    Aturan Baru OJK Kawal Pasar Modal

    26-09-2026 - 02.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.