agroplus.co.id – Dinamika nilai tukar rupiah yang fluktuatif belakangan ini ternyata membuka peluang bisnis baru bagi sektor perbankan. Di tengah pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar AS, PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) atau yang lebih dikenal sebagai KB Bank, justru berhasil mencatatkan lonjakan signifikan pada transaksi mata uang Won Korea (KRW). Fenomena ini menjadi angin segar bagi kinerja keuangan bank yang merupakan bagian dari raksasa finansial asal Korea Selatan tersebut.
Kenaikan transaksi Won ini tidak terjadi begitu saja. Salah satu faktor kunci yang mendorong pertumbuhan tersebut adalah keunggulan fasilitas Local Currency Transaction (LCT) yang dimiliki oleh KB Bank. Fasilitas ini memungkinkan nasabah untuk melakukan transaksi langsung menggunakan mata uang lokal, yakni Rupiah dan Won, tanpa harus melewati mata uang perantara seperti Dolar AS.

Direktur Wholesale Banking KB Bank, Widodo Suryadi, menjelaskan bahwa KB Bank merupakan satu-satunya bank asal Korea Selatan di Indonesia yang memegang izin resmi untuk menjalankan mekanisme LCT Rupiah-Won. Keunggulan ini memberikan efisiensi yang sangat besar bagi para pelaku bisnis yang memiliki keterkaitan ekonomi dengan Korea Selatan.
"Melalui LCT ini, nasabah dapat menghemat biaya konversi kurs hingga 20 persen. Jika sebelumnya transaksi harus melalui jalur Rupiah ke USD, lalu USD ke Won, maka biaya selisih kurs atau spread akan membengkak. Dengan sistem ini, biaya tersebut bisa ditekan secara signifikan," ungkap Widodo dalam sebuah diskusi media di Jakarta Selatan.
Meskipun tidak merinci angka pasti mengenai total simpanan Won, Widodo mengakui bahwa volume transaksi KRW di KB Bank menunjukkan tren positif secara konsisten setiap bulannya. Secara tahunan, pertumbuhan transaksi ini tercatat berada pada angka high single digit. Ia bahkan optimis bahwa ke depannya, pertumbuhan transaksi Won ini mampu menembus angka dua digit (double digit).
Optimisme ini didasari oleh potensi pasar yang masih sangat luas. Menurutnya, masih banyak perusahaan asal Korea Selatan yang beroperasi di Indonesia yang belum menyadari sepenuhnya adanya kemudahan layanan LCT ini. Oleh karena itu, KB Bank terus berupaya memperluas edukasi agar layanan ini menjadi pilihan utama bagi para pelaku usaha.
Senada dengan hal tersebut, Novita S. Djani selaku Transaction Banking Division Head KB Bank, menyebutkan bahwa LCT telah menjadi salah satu mesin pertumbuhan transaksi utama bagi bank. Layanan ini menjadi solusi strategis bagi nasabah wholesale dalam menghadapi ketidakpastian nilai tukar rupiah yang sedang terjadi.
Dampak dari strategi ini terlihat jelas dalam laporan keuangan perusahaan. Berdasarkan data per 30 Juni 2026, keuntungan dari penjabaran transaksi valuta asing (valas) milik KB Bank melonjak drastis menjadi Rp64,19 miliar. Angka ini menunjukkan pembalikan arah yang luar biasa jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan kerugian sebesar Rp25,94 miliar. Secara persentase, perolehan ini melesat hingga 347,41 persen secara tahunan (year-on-year).
Kondisi ini menjadi sangat relevan mengingat nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS tercatat melemah sekitar 6,98 persen secara year-to-date hingga September 2026. Di tengah tantangan makroekonomi tersebut, kemampuan KB Bank dalam menyediakan solusi transaksi mata uang lokal menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan bisnis nasabah mereka.
