agroplus.co.id – Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, dan Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, resmi memperkuat komitmen kolaborasi strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dalam pertemuan khusus yang digelar pada Kamis (24/9/2026), kedua otoritas utama keuangan ini menyepakati sebuah kerangka kerja sama baru yang dirancang untuk menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks.
Sinergi antara kebijakan moneter yang dijalankan oleh Bank Indonesia dan kebijakan fiskal yang dikelola oleh Kementerian Keuangan ini akan difokuskan pada lima pilar utama. Langkah ini diambil sebagai upaya preventif sekaligus responsif terhadap dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Pilar pertama dalam kesepakatan ini adalah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk mencapai target tersebut, BI dan Kemenkeu akan mengoptimalkan penggunaan instrumen kebijakan fiskal dan moneter agar saling melengkapi, bukan justru berjalan sendiri-sendiri. Harmonisasi ini diharapkan mampu menciptakan iklim investasi yang stabil dan mendukung daya beli masyarakat.
Pilar kedua berfokus pada penguatan ketahanan sektor eksternal. Hal ini menjadi krusial mengingat gejolak ekonomi global sering kali berdampak langsung pada perdagangan internasional dan aliran modal asing di Indonesia. Destry menjelaskan bahwa pemerintah akan memberikan berbagai insentif, termasuk terkait biaya hedging (lindung nilai), untuk menarik aliran modal asing masuk ke pasar domestik. Langkah ini akan mencakup dukungan terhadap pembelian Surat Berharga Negara (SBN), instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pasar saham, hingga pengelolaan pinjaman luar negeri.
Selanjutnya, pilar ketiga menekankan pada pentingnya menjaga kecukupan likuiditas di dalam sistem perekonomian. Fokus utama pilar ini meliputi pasar uang, sektor perbankan, hingga stabilitas ekonomi secara menyeluruh. Destry menyoroti fenomena tingginya suku bunga deposito di perbankan yang berpotensi meningkatkan biaya dana (cost of fund). Dalam hal ini, Kementerian Keuangan juga memberikan imbauan kepada Badan Layanan Umum (BLU) agar lebih bijak dalam melakukan permintaan suku bunga guna menjaga keseimbangan likuiditas.
Pilar keempat berkaitan erat dengan pengendalian inflasi. Sinergi ini akan dilakukan melalui penguatan peran Tim Pengendali Inflasi (TPI) baik di tingkat pusat maupun di berbagai daerah. Koordinasi yang erat antara pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok tetap terjaga.
Terakhir, pilar kelima adalah koordinasi dalam upaya pendalaman pasar uang. Langkah ini bertujuan agar transmisi kebijakan dari Bank Indonesia dapat berjalan lebih lancar dan efektif ke seluruh lapisan ekonomi, sekaligus memperluas sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia.
Destry Damayanti mengungkapkan bahwa kelima poin strategis tersebut telah mendapatkan respons positif dan sejalan dengan perhatian utama Kementerian Keuangan. Melalui penguatan lima pilar ini, diharapkan Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang lebih kokoh dalam menghadapi berbagai skenario ekonomi di masa depan.
