Close Menu
    What's Hot

    Rupiah Tertekan Dolar AS Menjelang Keputusan BI

    23-09-2026 - 02.06

    Ribuan Balpres Ilegal Mengancam Pasar RI

    23-09-2026 - 02.02

    Mengejar Sisa Utang BLBI yang Belum Lunas

    23-09-2026 - 00.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Rupiah Tertekan Dolar AS Menjelang Keputusan BI
    • Ribuan Balpres Ilegal Mengancam Pasar RI
    • Mengejar Sisa Utang BLBI yang Belum Lunas
    • Vietnam Naik Kelas Jadi Emerging Market
    • Siloam Siapkan Triliunan Rupiah Borong Aset RS
    • IHSG Terjun Bebas ke Zona Merah
    • Aksi Diam Edwin Soeryadjaya Borong Saham SRTG
    • Rupiah Merosot IHSG Anjlok Tajam
    Rabu, 23 September 2026
    agroplus
    Home - Pangan - Rupiah Tertekan Dolar AS Menjelang Keputusan BI
    Pangan

    Rupiah Tertekan Dolar AS Menjelang Keputusan BI

    23-09-2026 - 02.063 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    agroplus.co.id – Nilai tukar rupiah masih menunjukkan tren pelemahan saat menutup perdagangan pada Selasa (22/9/2026). Mata uang nasional tersebut berakhir di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah ketidakpastian pasar yang tengah menantikan langkah strategis Bank Indonesia (BI) terkait kebijakan suku bunga acuan.

    Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah tercatat melemah tipis sebesar 0,14% ke posisi Rp17.850 per dolar AS. Meskipun mengalami penurunan, performa penutupan ini sebenarnya menunjukkan perbaikan jika dibandingkan dengan kondisi saat pembukaan perdagangan. Pada awal sesi, rupiah sempat terdepresiasi lebih dalam sebesar 0,20% ke level Rp17.860 per dolar AS.

    Rupiah Tertekan Dolar AS Menjelang Keputusan BI
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Sepanjang perdagangan hari ini, volatilitas mata uang domestik cukup terasa. Sempat terjadi tekanan yang cukup kuat hingga kurs dolar AS menyentuh angka Rp17.896. Namun, menjelang penutupan, rupiah berhasil melakukan upaya pemulihan dengan memangkas pelemahannya hingga 46 poin, sehingga mampu menutup perdagangan di level yang lebih stabil.

    Di sisi lain, kekuatan dolar AS (DXY) yang mengukur performa greenback terhadap enam mata uang utama dunia juga menunjukkan penguatan. Hingga pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS tercatat naik tipis 0,05% ke posisi 100,481. Penguatan dolar ini menjadi salah satu faktor eksternal yang menekan nilai tukar rupiah di pasar global.

    Saat ini, fokus utama pelaku pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada Selasa hingga Rabu (22-23 September 2026). Keputusan krusial mengenai suku bunga acuan dijadwalkan akan diumumkan pada esok hari. Berdasarkan hasil jajak pendapat terhadap 11 institusi dan lembaga keuangan, mayoritas responden (8 lembaga) memprediksi BI akan tetap mempertahankan suku bunga di level 5,75%. Sementara itu, tiga responden lainnya memperkirakan adanya kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%.

    Jika BI memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga, maka ini akan menjadi keputusan ketiga secara berturut-turut setelah BI Rate tetap di angka 5,75% pada pertemuan bulan Juli dan Agustus lalu.

    Menanggapi dinamika ini, Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, berpendapat bahwa prioritas utama Bank Indonesia saat ini adalah menjaga stabilitas pasar keuangan, khususnya menjaga agar nilai tukar rupiah tidak merosot terlalu tajam. Menurutnya, BI memiliki ruang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui instrumen lain tanpa harus selalu mengandalkan kenaikan suku bunga.

    "Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik, BI dapat melonggarkan kebijakan makroprudensial serta meningkatkan efektivitas sistem pembayaran nasional," ujar Juniman.

    Selain faktor domestik, sentimen global juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Pasar global masih merespons kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang memberikan sinyal adanya peluang pengetatan moneter lanjutan. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Oktober meningkat menjadi 55%, naik signifikan dari angka 43% pada pekan sebelumnya. Kondisi ini membuat dolar AS tetap perkasa dan memberikan tekanan berkelanjutan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Ribuan Balpres Ilegal Mengancam Pasar RI

    23-09-2026 - 02.02

    Mengejar Sisa Utang BLBI yang Belum Lunas

    23-09-2026 - 00.06

    Vietnam Naik Kelas Jadi Emerging Market

    23-09-2026 - 00.02

    Siloam Siapkan Triliunan Rupiah Borong Aset RS

    22-09-2026 - 23.06

    IHSG Terjun Bebas ke Zona Merah

    22-09-2026 - 23.02

    Aksi Diam Edwin Soeryadjaya Borong Saham SRTG

    22-09-2026 - 20.06
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Rupiah Tertekan Dolar AS Menjelang Keputusan BI

    agroplus.co.id – Nilai tukar rupiah masih menunjukkan tren pelemahan saat menutup perdagangan pada Selasa (22/9/2026).…

    Ribuan Balpres Ilegal Mengancam Pasar RI

    23-09-2026 - 02.02

    Mengejar Sisa Utang BLBI yang Belum Lunas

    23-09-2026 - 00.06

    Vietnam Naik Kelas Jadi Emerging Market

    23-09-2026 - 00.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.