Geger! Salim Bikin Kejutan di Bank Ina, Ada Apa Ini?
Agroplus – Dunia pasar modal kembali dihebohkan dengan manuver besar di salah satu emiten perbankan milik konglomerat Anthoni Salim. PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) menjadi sorotan setelah terjadi transaksi jumbo yang mencengangkan di pasar negosiasi pada Jumat, 18 September 2026, menjelang penutupan pekan. Kejadian ini sontak memicu berbagai spekulasi di kalangan investor dan pengamat pasar.

Transaksi ini bukan main-main. Menurut data yang dihimpun dari Stockbit, sebanyak 1,8 juta lot atau setara dengan 180 juta lembar saham BINA berpindah tangan. Angka fantastis ini terjadi pada harga Rp 4.100 per saham, sehingga total nilai transaksinya mencapai sekitar Rp 738 miliar. Sebuah angka yang tentu saja memicu pertanyaan dan analisis mendalam mengenai tujuan di balik kesepakatan masif ini.
Menariknya, pergerakan saham BINA di pasar reguler pada hari yang sama menunjukkan dinamika tersendiri. Saham BINA sempat perkasa menyentuh level tertinggi harian di Rp 4.100, namun kemudian berbalik melemah dan ditutup di posisi Rp 4.050 per saham. Volume transaksi di pasar reguler tercatat sekitar 380 ribu lot dengan nilai Rp 1,54 miliar, jauh di bawah nilai transaksi jumbo di pasar negosiasi. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa transaksi besar tersebut adalah kesepakatan khusus yang terjadi di luar mekanisme pasar reguler.
Kejadian ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya, pada Selasa, 20 Januari 2026, pasar negosiasi BINA juga mencatat transaksi jumbo serupa. Kala itu, data dari Indo Premier menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp 733,7 miliar dengan 159,5 juta saham yang ditransaksikan. Pola transaksi besar ini mengisyaratkan adanya aktivitas strategis yang sedang berlangsung di balik layar emiten bank KBMI 1 ini, mungkin terkait restrukturisasi kepemilikan atau langkah korporasi penting lainnya.
Anthoni Salim sendiri masih kokoh sebagai pengendali utama Bank Ina Perdana. Penguasaan ini dilakukan melalui beberapa entitas afiliasi. PT Indolife Pensiontama menjadi pemegang saham terbesar dengan 22,83%, disusul oleh PT Samudra Biru dengan 18,16%, dan PT Gaya Hidup Masa Kini yang mengempit 11,84% saham BINA. Grup Salim secara resmi mengambil alih kendali Bank Ina Perdana sejak 18 Maret 2020, menandai ekspansi signifikan mereka di sektor perbankan nasional.
Transaksi-transaksi jumbo semacam ini, terutama di pasar negosiasi, seringkali menjadi indikator adanya restrukturisasi kepemilikan, penjualan blok saham, atau langkah strategis lain dari pemegang saham pengendali. Bagi investor, ini adalah sinyal penting untuk mencermati arah kebijakan dan potensi perubahan di tubuh Bank Ina Perdana ke depan. Publik menanti penjelasan lebih lanjut dari manajemen BINA atau Grup Salim terkait manuver finansial yang begitu besar ini.
