Close Menu
    What's Hot

    Aturan Baru Pantau Saham Blue Chip

    12-10-2026 - 08.06

    Dana Triliunan Mengalir ke Sektor Perumahan

    12-10-2026 - 08.02

    IHSG Melaju Hijau di Tengah Gejolak Global

    12-10-2026 - 05.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Aturan Baru Pantau Saham Blue Chip
    • Dana Triliunan Mengalir ke Sektor Perumahan
    • IHSG Melaju Hijau di Tengah Gejolak Global
    • Strategi Baru BIKE Kuasai Tambang Berau
    • Misteri Aliran Dana Asing di Bursa Efek
    • Investor Asing Borong Bisnis Investasi RI
    • Strategi Baru MKNT Ubah Arah Bisnis
    • Strategi Baru Mandiri Kuasai Pasar Emas
    Senin, 12 Oktober 2026
    agroplus
    Home - Pangan - Bursa Berdarah: Investor Wajib Tahu Ini Sebelum Senin!
    Pangan

    Bursa Berdarah: Investor Wajib Tahu Ini Sebelum Senin!

    19-09-2026 - 00.064 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    Agroplus – Menjelang akhir pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu bertahan di zona hijau. Pasar modal Indonesia harus menutup hari dengan pelemahan signifikan, turun 21,27 poin atau 0,33%, memarkir diri di level 6.441. Sebuah penutup pekan yang kurang menggembirakan bagi para investor, yang mungkin berharap bisa menikmati akhir pekan dengan sentimen positif.

    Sepanjang hari, pergerakan IHSG memang cenderung lesu dan berada di zona merah. Setelah sempat dibuka menguat di 6.512,57, indeks langsung bergerak fluktuatif sebelum akhirnya terperosok lebih dalam. Level tertinggi hari ini tercatat di 6.521,02, sementara titik terendah menyentuh 6.419,50, menunjukkan betapa beratnya tekanan jual yang terjadi.

    Bursa Berdarah: Investor Wajib Tahu Ini Sebelum Senin!
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan dominasi saham yang melemah. Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 212 yang berhasil menguat, sementara 464 saham harus tumbang, dan 287 saham stagnan. Total volume transaksi mencapai 31,72 miliar saham dengan nilai Rp 19,24 triliun. Angka ini mencerminkan aktivitas pasar yang cukup tinggi, namun sayangnya lebih banyak didominasi oleh aksi jual.

    Mengutip Stockbit, aktivitas transaksi di seluruh pasar tercatat mencapai 325,81 juta lot, dengan nilai transaksi fantastis sebesar Rp19,25 triliun, terjadi dalam sekitar 1,92 juta kali frekuensi. Pasar reguler menjadi tulang punggung aktivitas ini dengan 291,76 juta lot dan nilai Rp17,3 triliun. Sementara itu, transaksi di pasar negosiasi tercatat 34,05 juta lot senilai Rp1,95 triliun, dan pasar tunai relatif kecil dengan 640 lot senilai Rp18,96 juta.

    Sektor-sektor yang paling merasakan tekanan adalah konsumer primer yang anjlok 1,27%, disusul properti dengan penurunan 1,2%, dan sektor kesehatan yang terkoreksi 1,18%. Ini menunjukkan sentimen negatif yang cukup merata di beberapa sektor vital yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.

    Beberapa saham raksasa turut menjadi pemberat utama IHSG, di antaranya PT Amman Minerals Tbk (AMMN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Koreksi pada saham-saham berkapitalisasi besar ini tentu memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.

    Meski demikian, ada beberapa saham yang mencoba menahan laju koreksi, seperti PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM). Saham BYAN bahkan sempat melesat 19,96% di pagi hari, menjadi penopang awal yang memberikan sedikit harapan.

    Padahal, pagi hari IHSG sempat menunjukkan harapan dengan dibuka di jalur hijau, menguat 0,76% ke level 6.511,5. Penguatan ini sebagian besar ditopang oleh saham BYAN dan beberapa emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Haji Isam, memberikan ilusi awal bahwa pasar akan mengakhiri pekan dengan ceria.

    Dari kancah global, sejumlah indikator eksternal sebenarnya memberikan angin segar. Wall Street berhasil rebound pada perdagangan Kamis, dengan Dow Jones naik 0,61%, S&P 500 menguat 1,14%, dan Nasdaq Composite melonjak 1,69%. Ini seiring dengan turunnya imbal hasil US Treasury dan harga minyak dunia, yang seharusnya menjadi katalis positif.

    Harga minyak Brent terkoreksi sekitar 1% menjadi US$104,82 per barel, dan minyak WTI turun ke US$101,91 per barel. Klaim tunjangan pengangguran AS yang lebih rendah dari ekspektasi juga menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih kuat, sebuah sinyal positif bagi ekonomi terbesar dunia tersebut.

    Namun, bayang-bayang ketidakpastian masih menyelimuti. Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Arab Saudi dan kelompok Houthi terus menjadi sorotan, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dan lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz yang dilaporkan menurun tajam. Risiko geopolitik ini menjadi faktor penghambat utama sentimen positif global.

    Selain itu, arah kebijakan moneter The Fed masih menjadi perhatian utama investor, yang terus mencermati setiap sinyal terkait inflasi dan suku bunga. Di Eropa, Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga 3,75% meski inflasi Inggris meningkat, sembari menyoroti risiko kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah.

    Sementara itu, perhatian pasar Asia tertuju pada Jepang, menanti rilis data inflasi dan keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ) yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 1,25%. Keputusan ini berpotensi menggerakkan yen dan pasar obligasi global, menambah kompleksitas dinamika pasar keuangan internasional. Dengan berbagai faktor global yang saling tarik-menarik ini, investor di Indonesia perlu ekstra waspada menghadapi pekan depan.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Aturan Baru Pantau Saham Blue Chip

    12-10-2026 - 08.06

    Dana Triliunan Mengalir ke Sektor Perumahan

    12-10-2026 - 08.02

    IHSG Melaju Hijau di Tengah Gejolak Global

    12-10-2026 - 05.06

    Strategi Baru BIKE Kuasai Tambang Berau

    12-10-2026 - 05.02

    Misteri Aliran Dana Asing di Bursa Efek

    12-10-2026 - 02.06

    Investor Asing Borong Bisnis Investasi RI

    12-10-2026 - 02.02
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Aturan Baru Pantau Saham Blue Chip

    agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia kini memasuki babak baru dalam upaya memperkuat transparansi dan perlindungan…

    Dana Triliunan Mengalir ke Sektor Perumahan

    12-10-2026 - 08.02

    IHSG Melaju Hijau di Tengah Gejolak Global

    12-10-2026 - 05.06

    Strategi Baru BIKE Kuasai Tambang Berau

    12-10-2026 - 05.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.