Agroplus – Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali diwarnai sentimen negatif pada perdagangan Jumat lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok dalam, dan tak bisa dipungkiri, peran investor asing dalam aksi jual bersih mereka turut memperparah kondisi pasar saham domestik.
Hingga penutupan sesi I, IHSG terpantau anjlok signifikan sebesar 1,49%, kehilangan 98,43 poin, dan parkir di level 6.490,91. Kondisi pasar mencerminkan kekhawatiran yang mendalam, terlihat dari dominasi saham yang melemah, mencapai 545 emiten. Sementara itu, hanya 141 saham yang berhasil menguat, dan 277 saham lainnya stagnan, seolah tak berdaya menghadapi gelombang tekanan.

Data dari Stockbit Sekuritas menunjukkan bahwa investor asing memang menjadi salah satu pemicu utama penurunan ini. Mereka membukukan aksi jual bersih atau net foreign sell senilai Rp428,96 miliar. Angka ini didapat dari total pembelian asing sebesar Rp2,33 triliun yang jauh lebih kecil dibandingkan total penjualan mereka yang mencapai Rp2,76 triliun. Sebuah indikasi jelas bahwa kepercayaan terhadap pasar domestik sedang diuji.
Beberapa saham unggulan tak luput dari sasaran obral asing. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi primadona di daftar jual, dengan nilai net sell mencapai Rp311,71 miliar. Menyusul di belakangnya, ada PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang dilepas asing senilai Rp99,73 miliar, serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan net sell Rp50,63 miliar. Ini menunjukkan bahwa bahkan saham-saham berkapitalisasi besar pun rentan terhadap sentimen negatif pasar.
Namun, di tengah gelombang jual yang masif, beberapa saham justru menarik perhatian investor asing untuk diakumulasi. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) berhasil mencatatkan net foreign buy terbesar, mencapai Rp142,46 miliar, menunjukkan adanya keyakinan pada fundamentalnya. Selain itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga diakumulasi sebesar Rp37,78 miliar, diikuti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan Rp34 miliar, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar Rp29,08 miliar. Ini bisa menjadi sinyal bahwa tidak semua sektor atau emiten dianggap sama di mata investor global.
Pergerakan pasar yang fluktuatif ini tentu menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar dan investor. Dengan IHSG yang masih mencari pijakan, dinamika aksi beli dan jual asing akan terus menjadi barometer penting untuk memprediksi arah pasar ke depan. Informasi lebih lanjut mengenai tren pasar dan analisis mendalam dapat Anda temukan di agroplus.co.id.
