Agroplus – Dinamika pasar modal, tak ubahnya lahan investasi yang selalu menawarkan kejutan, kembali menyita perhatian. Sebuah transaksi jumbo saham PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI) senilai sekitar Rp1,25 triliun pada perdagangan Kamis, 10 September 2026, terkuak sebagai perpindahan kepemilikan signifikan di antara dua pemegang saham perseroan. Peristiwa ini bukan sekadar jual beli biasa, melainkan konsolidasi kekuatan yang menarik untuk dicermati, mirip dengan bagaimana sebuah kebun beralih kepemilikan untuk dikelola dengan visi baru.
Berdasarkan informasi yang dirilis ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Beauty Brands International Pte Ltd, entitas asal Singapura, telah melepas seluruh ‘bibit’ kepemilikannya di VICI. Sebanyak 1,677 miliar saham, atau setara 25% dari total saham perseroan, berpindah tangan. Penjualan ini dilakukan pada harga Rp747 per saham pada tanggal 10 September 2026, dengan total nilai transaksi mencapai sekitar Rp1,25 triliun. Dalam laporannya, Beauty Brands International secara gamblang menyebut tujuan transaksi ini sebagai penjualan saham, menandai berakhirnya peran mereka dalam "ekosistem" VICI.

Namun, ‘lahan’ investasi ini tidak dibiarkan kosong. Pada hari yang sama, PT Sukses Sejati Sejahtera melaporkan telah mengakuisisi saham VICI dalam jumlah dan harga yang identik, yakni 1,677 miliar saham pada harga Rp747 per saham. Tujuan transaksi ini, menurut laporan, adalah untuk investasi jangka panjang. Dengan pembelian strategis ini, kepemilikan Sukses Sejati Sejahtera di VICI melonjak signifikan, dari sebelumnya 4,021 miliar saham (59,95%) menjadi 5,698 miliar saham (84,95%). Menariknya, Sukses Sejati Sejahtera juga tercatat sebagai pihak yang memiliki keterkaitan dengan jajaran Direksi VICI, menunjukkan komitmen yang lebih dalam terhadap pertumbuhan dan keberlanjutan perusahaan.
Dengan rampungnya transaksi ini, Beauty Brands International secara resmi tidak lagi memiliki saham VICI, mengakhiri ‘musim tanam’ mereka di perusahaan tersebut. Sebaliknya, Sukses Sejati Sejahtera kini kokoh sebagai pengendali utama VICI. Mereka pun telah menyatakan komitmennya untuk mempertahankan pengendalian atas perseroan, menjamin stabilitas dan arah strategis ke depan, layaknya seorang petani yang menjaga lahan dan tanamannya agar terus berproduksi optimal dan memberikan hasil terbaik.
Transaksi masif ini juga memberikan gambaran jelas di balik lonjakan data perdagangan pasar. Sebanyak 16,77 juta lot saham VICI berpindah tangan pada harga rata-rata Rp747, dengan nilai total sekitar Rp1,25 triliun. Hal ini turut memicu angka net sell investor asing yang melambung menjadi Rp1,95 triliun pada hari tersebut. Namun, jika transaksi VICI ini dikecualikan, net foreign sell hari itu sebenarnya berkisar di angka Rp700 miliar, menunjukkan bahwa sebagian besar ‘arus keluar’ modal asing hari itu terkonsentrasi pada perpindahan kepemilikan VICI ini, bukan pada sentimen pasar secara keseluruhan. Ini mengindikasikan bahwa kepercayaan investor lokal terhadap potensi VICI tetap kuat, bahkan mengambil alih kendali penuh.
(mkh/mkh)
