Agroplus – Ibarat tanaman yang dirawat dengan cermat, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) kini tengah memanen hasil kerja kerasnya. Di tengah tantangan ekonomi, bank pelat merah ini justru mencatat akselerasi pertumbuhan bisnis yang impresif sepanjang semester I-2026. Penyaluran kredit, bak pupuk yang menyuburkan, menjadi motor utama penggerak pertumbuhan dua digit yang signifikan.
Hery Gunardi, Direktur Utama BRI, dengan optimisme menyatakan bahwa berbagai indikator kinerja perseroan hingga pertengahan tahun 2026 ini bergerak ke arah yang sangat positif. "Hingga semester I 2026 berbagai indikator kerja BRI bergerak ke arah positif, bisnis menguat, rasio kredit bermasalah menurun, mampu kami konversikan," ujar Hery dalam konferensi pers paparan kinerja BRI yang digelar pada Senin (31/8/2026) di Jakarta. Pernyataan ini menegaskan kemampuan bank dalam menjaga kualitas aset di tengah gempuran pertumbuhan.

Secara rinci, Hery mengungkapkan bahwa total kredit dan pembiayaan yang disalurkan oleh BRI Group telah mencapai angka fantastis Rp1.646 triliun pada semester I-2026. Angka ini mencerminkan pertumbuhan solid sebesar 16,2% secara tahunan (yoy). Lonjakan kredit ini secara langsung menjadi penopang utama pertumbuhan aset perseroan yang juga turut membengkak 11,7% yoy, menunjukkan sinergi yang kuat antara penyaluran dana dan penguatan neraca.
Di sisi pendanaan, BRI berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7% yoy. Menariknya, dengan pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan DPK, perseroan menunjukkan kemampuan luar biasa dalam meningkatkan fungsi intermediasinya. Ini berarti BRI semakin efisien dalam menyalurkan dana yang dihimpun kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit, sekaligus mengoptimalkan aset yang dimiliki untuk produktivitas yang lebih tinggi.
Hery menegaskan bahwa strategi BRI ke depan tidak hanya terpaku pada pengejaran volume DPK semata. Lebih dari itu, fokus utama adalah meningkatkan aktivitas transaksi dari setiap nasabah. "Ke depan fokus kami bukan hanya meningkatkan volume DPK, tapi meningkatkan aktivitas funding," katanya, menggarisbawahi pergeseran paradigma menuju kualitas dan intensitas penggunaan layanan perbankan.
Strategi ini tercermin jelas dari penguatan dana murah atau Current Account Savings Account (CASA) BRI. Data perseroan menunjukkan CASA tumbuh sekitar 10,1% yoy, dengan rasio CASA mencapai 67,6%. Penguatan basis dana murah ini bukan hanya sekadar angka, melainkan juga berkontribusi signifikan dalam menekan biaya dana (cost of fund) perseroan. Biaya dana berhasil ditekan menjadi sekitar 2,4%, turun drastis dari 3,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya, sebuah efisiensi yang patut diacungi jempol.
Tak hanya itu, Hery juga menekankan komitmen perseroan untuk memastikan pertumbuhan bisnis, khususnya di segmen mikro, berjalan beriringan dengan kapasitas aset yang dimiliki. Ini menunjukkan kehati-hatian sekaligus keberlanjutan. Di saat yang sama, BRI juga mulai agresif menangkap sumber pertumbuhan baru melalui pengembangan ekosistem bisnis yang lebih luas. "Kami ingin memastikan pertumbuhan bisnis mikro berjalan beriringan dengan aset yang kami miliki. Kami juga menangkap bisnis baru, akuisisi payroll dan perluasan layanan bullion Bank BRI Group," jelas Hery, menggambarkan diversifikasi strategi untuk masa depan.
Berbagai agenda strategis tersebut, menurut Hery, telah dieksekusi dengan matang dan kini mulai menunjukkan hasil positif yang nyata. Ini membuktikan bahwa BRI tidak hanya tumbuh secara kuantitas, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan, siap menghadapi ‘musim panen’ berikutnya dengan lebih gemilang.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
